0
Posted Senin, 13 Agustus 2012 15:26 by Hardianto Bayu Sadewo in Profil
 
 
Sutanto Hartono

Kembalinya Sang Pionir ke Bisnis Media

Sutanto Hartono
President Director Emtek Group dan Direktur Utama SCTV

Kesuksesan seakan tak pernah jauh dari pria dengan penampilan bersahaja ini. Dilahirkan dengan nama Sutanto Hartono, nama yang sudah begitu harum di industri entertainment Indonesia, khususnya di dunia broadcasting. Lewat tangan dinginnya, ia berhasil membangun Media Nusantara Citra (MNC) menjadi perusahaan multimedia terbesar di Indonesia.

Karir Sutanto mulai meroket di dunia broadcasting sejak dipercaya memimpin jaringan penyiaran Rajawali Citra Televisi (RCTI) sebagai CEO sejak tahun 2008 dan Managing Director sejak 2003. Saat duduk sebagai Direktur MNC, Sutanto banyak diacungi jempol karena berhasil menjadikan dunia hiburan sebagai industri.

Sebelum berkarir di RCTI, Sutanto merupakan aktor utama yang mendirikan Sony Music Entertainment Indonesia (SMEI). Selama 7,5 tahun sebagai CEO SMEI, ia berhasil mengorbitkan perusahaan tersebut menjadi raja di industri rekaman Tanah Air, jauh melampaui Warner Music, EMI, dan Polygram. Berkat keberhasilannya itu, ia pun diangkat sebagai Senior Vice President Sony Music untuk Asia Tenggara.

Reputasinya yang gemilang telah menghantarkannya ke ‘dunia yang lain’, dunia teknologi informasi (TI) saat bergabung ke Microsoft. Selama dua tahun menjabat sebagai Direktur Utama Microsoft Indonesia, Sutanto berhasil membawa raksasa software itu sebagai pelopor dalam pengenalan teknologi “Cloud Computing” Microsoft di Indonesia dan berperan kunci dalam membina hubungan dengan partner-partner strategis Microsoft.

Kini pria yang pernah berkarier sebagai Senior Associate di Booz Allen & Hamilton, Asia Tenggara itu telah kembali ke dunia yang telah membesarkannya. Sejak November 2011, Sutanto resmi bergabung dengan SCTV sebagai Direktur Utama. Dan pada Mei 2012, ia juga ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) Tbk, sebuah grup usaha yang bergerak dibidang media, IT Solutions, dan konektivitas, yang adalah juga merupakan holding company dari SCTV.

Telset cukup beruntung karena mendapat kesempatan untuk mewawancarai pria super sibuk ini. Saat bertemu, sempat terpikir pria berusia 45 tahun ini sangat kaku, karena memilki gaya bicara yang amat cepat, sehingga terkadang menyulitkan lawan bicaranya. Namun ternyata setelah mengenalnya lebih dekat, Sutanto adalah pribadi yang hangat dan sangat ramah saat diajak berdiskusi. Berikut petikannya:

Karir Anda banyak habiskan di industri media dan IT. Kenapa Anda tertarik di dunia media dan IT?

Kebetulan dunia IT dan media ini bagi saya ada persamaannya yang membuatnya lebih menarik, yaitu dinamikanya. Dua bidang ini selalu dinamis dan memiliki sesuatu yang baru. “Jadi bisa membangun dan membenahi di industri yang sangat dinamis ini merupakan pekerjaan yang sangat menarik buat saya,” kata Sutanto saat membuka perbincangan dengan Telset di ruang kerjanya yang nampak ‘minimalis’ di Gedung SCTV, Senayan City, Jakarta.

Anda dinilai sebagai CEO yang sukses memimpin beberapa perusahaan sebelumnya. Apa filosofi Anda dalam bekerja?

Bagi saya, dalam bekerja itu menjadi menarik jika saya punya kesempatan untuk melakukan dua hal. Yakni Pertama, ‘benerin sesuatu’, dan yang Kedua adalah ‘membangun sesuatu’. Inilah yang selalu menjadi passion saya dalam bekerja. Nah saat saya masuk di beberapa perusahaan, selalu pasti ada benang merahnya.

Misalnya saat di Sony, saya membangunnya dari nol. Waktu gabung ke RCTI saya melakukan transformasi, dan di MNC saya juga membangun model bisnis baru. Sementara waktu masuk ke Microsoft Indonesia, saya juga melakukan transformasi untuk meningkatkan capacity organisasi di sana. Dan sekarang saya diminta gabung di sini untuk membangun kembali Indosiar, TV Digital, dan Nexmedia. “Hal-hal itulah yang menarik buat saya,” kata pria yang pernah terpilih sebagai CEO Terbaik tahun 2003 pilihan Majalah SWA.

Anda sekarang gabung ke Emtek Group. Kalau boleh tahu, apa target Anda di Emtek?

Saya disini masih belum bisa bicara target karena masih baru sekitar 9 bulan, sehingga masih banyak yang harus disiapkan. Karena memang di Emtek masih banyak yang baru  tahap blue print. Misalnya Nexmedia, saya baru menyiapkan untuk bisa roll out untuk mendobrak ‘hegemoni’ di bisnis Pay TV, membenahi Indosiar, transisi TV analog ke digital, dll.

Yang jelas menurut saya, lima tahun ke depan landscape media akan jauh berbeda dari sekarang. Jadi akan banyak yang bisa dikerjakan di sini. “Target utama saya adalah ingin membawa grup ini ke next level yang lebih tinggi,” ujar Sarjana Teknik Kimia dari University of Notre Dame ini.

Bicara soal Indosiar. Saat Emtek mengakuisisi Indosiar, sebenarnya kondisinya  tidak terlalu bagus. Apa yang akan Anda lakukan untuk mengangkat Indosiar?

Indosiar memang harus diakui sedang mengalami pasang surut, dan saat diakuisisi pun Indosiar memang sedang kurang bagus. Kondisi tersebut menjadi ‘PR’ (pekerjaan rumah) buat kita sebagai pemilik yang baru untuk membenahi manajemen Indosiar. Dan sebenarnya sejak diambil alih oleh manajemen baru, secara financial performance sudah ada peningkatan yang cukup substantial. Cuma memang kita masih akan melakukan pembenahan secara fundamental, terutama dari sisi tingkat audience. Makanya kita sekarang akan coba membuat beberapa program yang bisa menjadi kekuatan Indosiar.

Di Emtek juga punya bisnis TV berbayar, Nexmedia. Bisa diceritakan sedikit perkembangan Nexmedia?

Sejak diluncurkan pertama kali pada November 2011, total pelanggan Nexmedia sampai saat ini kurang lebih 20 ribu pelanggan. Dan kita targetkan bisa ada penambahan 50 ribu pelanggan baru di Jabodetabek sampai akhir tahun ini. Target itu menurut kami cukup rasional, karena melihat fakta meningkatnya jumlah pelanggan sebanyak 30 persen selama Juni 2012 ini. “Untuk mendukung pencapaian target itu, mulai bulan Juli kita akan menambah empat channel baru, yaitu AXN, beTV, ESPN dan STAR Sports,” pungkas peraih penghargaan “Most Admired Company” dari majalah Business Week Indonesia.

Menurut Anda pasar Pay TV di Indonesia bagaimana?

Pasarnya sudah pasti ada. Cuma kalau kita bicara total pupulasi Pay TV di Indonesia, memang baru sekitar 2 juta dari total populasi penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta. Jadi menurut saya, potensinya masih sangat besar. Tapi penetrasi Pay TV di Indonesia memang tidak bisa seperti penetrasi di handphone yang bisa mencapai 80 persen.

Di Indonesia, Pay TV masih sebagai komplemen, kecuali bagi segmen masyarakat atas. Sementara mayoritas masyarakat Indonesia masih di level menengah bawah. Makanya dengan Nexmedia kita coba menyasar segmen mayoritas itu. “Sekarang dengan berlangganan yang paling murah cuma 46 ribu per bulan di Nexmedia, masyarakat kelas bawah sudah bisa menonton channel Disney dan National Geographic,” tutur suami Tina Ratna Utari ini.

Pemerintah sudah menetapkan akan menghentikan siaran TV analog pada 2018, dan beralih ke TV Digital. Bagaimana menurut Anda soal migrasi ke TV Digital ini? 

“Kita memang harus siap beralih ke TV Digital,” tegas Sutanto. TV Digital memang sudah menjadi kewajiban yang harus dijalankan. Karena migrasi ke digital ini bukan hanya keputusan pemerintah Indonesia saja, tapi juga merupakan bagian dari rencana global International Telecommunication Union (ITU) pada tahun 2006 melalui The Geneva Frequency Plan Agreement.

Makanya kami sangat mendukung peraturan menteri yang mengatur proses seleksi penyelenggara penyiaran multipleksing (multi channel) pada penyiaran TV Digital di Indonesia. Kita juga sudah siap mengikuti seleksi keanggotaan Lembaga Penyelenggara Penyiaran Multipleksing (LPPPM). “Kami sangat serius untuk ikut seleksi TV Digital. Kita sudah siap membangun infrastruktur untuk mendukung siaran digital,” tandasnya.

Secara infrastrukstur kesiapannya bagaimana?

Infrastruktur dengan bisnis model seperti ini sudah pasti akan lebih mahal. Karena pemerintah menetapkan bagi setiap pemenang bidding harus memiliki pemancar relay di lima zona layanan penyiaran multipleksing, yaitu zona DKI Jakarta dan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta, Jawa Timur dan Kepulauan Riau dari 15 zona layanan penyiaran multipleksing Indonesia.

Sementara saat masih siaran analog, kita kan milih-milih. Maksudnya, kita hanya membangun pemancar relay-nya di kota yang hanya penduduknya cukup banyak. Misalnya SCTV, walaupun memiliki jangkauan paling luas di seluruh Indonesia, tapi cuma memiliki 44 station relay. Nah, karena nantinya bagi pemenang bidding mau tidak mau wajib membangun pemancar relay di 5 zona tersebut, maka akhirnya cost-nya akan menjadi lebih mahal.

Menurut Anda, apa yang bisa menjadi kendala dalam proses migrasi ke digital?

Yang bikin kita ragu sebenarnya bukan masalah migrasi ke digital, tapi soal persiapan migrasinya. Karena saat ini diperkirakan jumlah populasi TV di Indonesia itu sekitar 60 juta – 140 juta set, yang mayoritas masih analog. Pemerintah memang berencana akan membagikan set top box sebagiai solusinya. Tapi yang jadi masalah, berapa lama set top box bisa terdistribusi, jika melihat populasi TV yang mencapai 140 juta tadi.

Di negara maju, peran pemerintah secara aktif untuk mendistribusikan set top box bagi kalangan yang tidak mampu, sehingga mempercepat proses migrasi dari TV analog ke digital. Tapi di negara maju seperti Amerika Serikat sekalipun, prosesnya juga berjalan cukup lama karena memang untuk memberikan subsidi set top box itu tidak mudah dan biayanya mahal. Inilah yang menjadi tanda tanya besar bagi kami di industri, butuh berapa lama kesiapan perangkat yang mendukung TV Digital di masyarakat.

Sebenarnya apa sih yang diharapkan pelaku industri?

Yang kita harapkan migrasi dari digital ke analog bisa cepat agar multicast –nya tadi tidak terlalu lama, sehingga biayanya juga tidak semakin mahal. Para pelaku industri memang inginnya migrasi bisa dilakukan secara bertahap. Dimulai dari 5 zona di Jawa dan Riau, hingga nantinya bisa mencakup 10 wilayah lainnya. Karena sebenarnya pemancar-pemancar yang kita beli dalam 5 tahun terakhir ini sudah digital ready.

Kita bisa pahami pemerintah memang bermaksud baik dengan mengganti ke TV digital, dengan cara ‘agak memaksa’ dengan cara halus lewat sistem bidding supaya kita punya komitmen untuk meluaskan jaringan. “Cuma yang dikhawatirkan jika planing-nya tidak mulus, maka bebannya akan ditanggung pelaku industri,” ujar pria yang masuk dalam ‘20 Top CEO Yang Paling Dikagumi’ 2011 ini.

Anda sudah cukup banyak meraih perhargaan sebagai CEO terbaik. Apakah Anda merasa pencapaian Anda selama ini sudah mencapai yang ditargetkan?

So far semuanya bisa tercapai. Kecuali Microsoft, karena memang periodenya cukup pendek, cuma dua tahun. Tetapi pada saat saya tinggalkan Microsoft, growth year on year sudah melebihi angka target tahunan yang diberikan perusahaan waktu itu. Sehingga saya merasa perusahaan sudah cukup mapan untuk saya tinggalkan. Karena saya selalu mempunyai kepuasan pribadi kalau perusahaan yang saya tinggalkan itu dalam kondisi yang bagus dan sudah memiliki fundamental yang kuat, sehingga saya bisa mewariskan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Apa keinginan Anda yang belum tercapai?

Saya itu sebenanarnya punya passion untuk ngajar (mengajar, Red). Cuma sampai sekarang saya belum punya waktu, karena memang waktu saya benar-benar habis buat karir. “One day, saya ingin bisa ngajar,” tutur penyandang gelar MBA bidang Marketing dan Finance dari University of California, Berkeley ini. [bayu sadewo]


Hardianto Bayu Sadewo