0
Posted Selasa, 15 Mei 2012 19:01 by Denny Mahardy in Profil
 
 
Danny Oei Wirianto

Social Media Ditangan Pakar Branding

Danny Oei Wirianto  |  CEO & Pendiri Mindtalk

Kendati tidak memiliki latar pendidikan branding dan marketing, namun pria kelahiran, Jakarta, 1 November 1974 ini malah banyak dikenal sebagai pakar branding. Pengetahuannya mengenai dunia tersebut dipelajarinya secara online. Tentu saja dipadukan dengan jiwa seni dan ilmu yang diperolehnya dari Kendall College of Art and Design, of Ferris State University, Michigan, Amerika Serikat (AS).

Anak dari pasangan Henny dan Erwin Wirianto ini memang memilih untuk menimba ilmu di Negeri Paman Sam itu. Karena merasa dirinya tidak bisa berkembang jika tinggal di Indonesia. Pada kondisi keluarganya yang pas-pasan, Danny memperoleh beasiswa jurusan ilustrasi di Michigan dan sempat bekerja di perusahaan agensi di negara tersebut.

Berbekal pengalaman bekerja di perusahaan agensi, Danny bersama beberapa temannya mendirikan perusahaan agensi  SemutApi Colony di AS pada tahun 2001. Namun umur SemutApi Colony yang didirikan di AS itu tak berumur panjang harus bubar di tengah jalan. Namun ternyata bara SemutApi™ masih terus menyala di kepala Danny. Dan sekembalinya ke tanah air pada tahun 2004, ia pun mulai merintis usahanya sendiri dengan mendirikan SemutApi Colony versi Indonesia™.

Kendati umur perusahaan yang didirikannya ini masih tergolong belia, namun berbagai penghargaan telah berhasil disabet oleh SemutApi Colony. Beberapa penghargaan tersebut itu diantaranya, Agency of The Year for the Rising Star Category MIX Marketing Communications (2010), bronze winner for The Bro and Cuy Super Show Pinasthika Award (2009),  Bubu Awards v.06 dan The Bro and Cuy Super Show Citra Pariwara (2008). Sementara untuk penghargaan pribadi, Danny berhasil meraih The CMO Asia award pada tahun 2010 dari CMO association.

Saya mendirikan perusahaan agensi karena memang memiliki pengalamannya di bidang tersebut. Ekspektasi saya ketika mendirikan SemutApi Colony pada tahun 2001 adalah untuk membanggakan bangsa Indonesia, kata Danny ketika menerima Telset di kantornya, di daerah Slipi, Jakarta.

Malang melintang di dunia agensi dan branding, ayah dari Cayla ini pun merintis suatu produk media social yang tumbuh begitu pesat belakangan ini, yaitu Mindtalk. Dengan memandang tren yang beralih dari socio graph kembali ke interest graph, maka media sosial ini berusaha menyatukan para penggunanya untuk berkumpul dan berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki interest sama.

Bisa diceritakan sedikit mengenai karir Anda?

Awal sekali saya pernah menjadi OB (office boy, red) semasa sekolah. Setelah lulus kuliah saya bekerja sebagai Digital Artist di Adobe System. Kemudian di agensi saya sudah mencoba berbagai posisi, mulai dari Digital Artist, Art Director, Creative Director. Maka dari itulah saya mendirikan agensi sendiri karena memang memilki pengalaman di situ jadi tahu. Tadinya saya mendirikan perusahaan agensi, yaitu SemutApi Colony di Amerika pada tahun 2001 adalah untuk membanggakan bangsa Indonesia.

Kiat-kiat Anda di bidang Marketing dan hal-hal yang menarik di dunia marketing itu apa?

Kiat-kiat di bidang Marketing, pertama adalah fokus mendevelop dan memperhatikan market kita itu arahnya ke mana. Kedua, kita harus bisa mendevelop ide-ide dari produknya. Dan yang ketiga, bagaimana menggunakan taktik yang beda untuk membedakan diri dengan perusahaan-perusahaan lain.

Dunia marketing itu menarik karena setiap produk selalu beda. Jadi setiap produk yang ditangani memiliki seninya masing-masing sehingga strateginya berbeda. Cara kita mendekati market, cara kita mengidentifikasi market, cara kita memanfaatkan itu berbeda jadi tidak bosan.

Apa perbedaan perusahaan agensi yang Anda dirikan dengan media sosial Mindtalk yang Anda buat?

Agensi merupakan suatu industri layanan, sedangkan media sosial adalah produk sendiri yang digunakan ratusan ribu atau jutaan orang. Tentunya ada perbedaan caranya menghasilkan uang, begitu pula dari cara mendirikannya dan membuat produknya. Media sosial ini bukan ke client centric, namun lebih ke customer centric.

Agensi dan media sosial ini dapat saling mendukung secara vice versa. Agensi bisa menjadi pendukung media sosial ini, namun jika media sosialnya sudah lebih berkembang kan lebih baik lagi. Sehingga Agensi memiliki senjata juga untuk ke klien, bisa menawarkan bagaimana cara berkomunikasi di media sosial ini. Ya saling membantulah.

Ambisi saya pada Mindtalk ini untuk membawanya ke level dunia. Market yang dituju adalah Asia Tenggara, Asia, Amerika Selatan. Di mana pada negara-negara di kawasan tersebut bahasanya memiliki karakter sendiri.

Sejak kapan Anda mempunyai ide untuk membuat Mindtalk?

Awalnya saya punya ide bagaimana menciptakan produk yang bisa kita banggakan ke luar negeri. Kedua, kita juga mau ciptakan dimana produk juga berguna bagi banyak orang untuk membentuk dan dimana orang bisa bertemu dengan komunitas yang berdasarkan interest. Itu dimulainya sekitar setahun yang lalu.

Mindtalk diluncurkan ke publik sejak September 2011, tetapi grand launching-nya sendiri masih belum. Hingga saat ini jumlah total member sudah lebih dari 85 ribu. Sekitar bulan Maret April ini ada peningkatan jumlah member yang cukup pesat. Karena kita juga kan punya aplikasi Mindtalk untuk berbagai sistem operasi untuk gadget. Ada Android, BlackBerry, Windows Phone dan iOS. Target hingga akhir tahun ini masih di 100 ribu. Belum ada perubahan target. Mudah-mudahan sih bisa lebih.

Harapan dalam dua tahun ke depan, mudah-mudahan Mindtalk sudah dapat digunakan oleh penduduk Malaysia, penduduk Singapura, penduduk Vietnam, penduduk Brazil dan mereka saling menggunakan alat ini untuk membantu mereka dalam berkomunikasi. Harapannya ya Mindtalk ini mendunia.

Hal penting apa yang harus diperhatikan untuk mempopulerkan Mindtalk ini?

Satu yang pasti kita akan fokus ke market yang early adaptor, jadi ke orang yang berani mencoba duluan. Kedua, yang kita ciptakan adalah alat dimana untuk membantu orang atau untuk membangun komunitas atau untuk bertemu dengan komunitas yang spesifik atau niche, sehingga orang yang suka fashion bisa bertemu dengan fashion e-jabbers. Jadi yang kita lakukan adalah bagaimana kita memfokuskan diri dan jangan sampai terlalu komersial.

Apa kelebihan Mindtalk dibandingkan dengan media sosial yang lain?

Kelebihan Mindtalk, yaitu Pertama, adalah dapat membuat komunitas. Kedua, lebih spesifik interest. Maksudnya spesifik interest di sini adalah, saat kita bicara soal fashion, kita bisa bilang fashion e-jabbers, street wear kemudian ada macam-macamlah. Lalu kelebihan yang Ketiga, kita membuat platform di mana untuk developer-developer dan programmer lokal bisa membuat aplikasi sendiri seperti Facebook application, tetapi buatan lokal. Selain itu kita juga dapat melakukan profiling.

Anda sepertinya mengikuti perkembangan media sosial. Bisa Anda ceritakan awalnya media sosial tumbuh di Indonesia?

Sebenarnya media sosial itu sudah cukup lama ya ada di Indonesia, mulai dari MIRC dan Yahoo Messenger. Baik di MIRC maupun Yahoo Messenger ada group, channel dan chatting. Orang Indonesia suka dengan produk-produk yang berbentuk sosial karena kita ini negara kepulauan. Maka dari itulah media sosial tumbuh sangat cepat, karena memang sudah kebutuhan kita untuk berkomunikasi.

Pada intinya sekitar 10 hingga 15 tahun yang lalu internet sudah dimulai dengan interest graph, ada forum, mirc, mailing list/group. Itu kan fokus ke interest graph. Kemudian baru swing ke socio graph, ada facebook, twitter, G+, Path. Namun pada perkembangannya, sekarang orang sudah mulai bosan, karena ternyata sosio graph ini belum tentu relevan atau pas untuk kita.

Karena mungkin kita bisa berteman banyak orang, namun itu hanya sekedar berteman. Misalnya ada seribu orang teman kita, tetapi yang sebenarnya kita kontak kan cuma sedikit. Beda jika kita bisa berteman dengan orang yang interest-nya sama, kita bisa duduk bareng sambil ngobrol atau ngumpul bareng sesama fans MU, dll. Jadi dengan Mindtalk kita juga melihat bagaimana trend-nya bisa kembali lagi ke interest graph.

Jika nanti misalnya perusahaan asing sekaliber Google akan membeli Mindtalk, apakah Anda tertarik?

Jika itu memang terjadi, tentunya kita ingin tetap mengontrol agar Mindtalk itu dalam diri kita sendiri. Jika dibeli tujuannya untuk mengembangkan Mindtalk menjadi tingkat dunia, kenapa tidak. Banyak perusahaan di luar seperti Motorola itu setengahnya dikuasai oleh perusahaan China, yang di dalamnya ada Google, ada perusahaan China, ada macam-macam, cuma Google yang beli tetapi berlaku konsorsium.

Mindtalk itu jika kita lakukan dengan profesional dan kita lakukan dengan baik, mudah-mudahan bisa menjadi perusahaanIndonesiayang dibanggakan yang bisa kuat di berbagai negara. Penanaman investasi dari investornya bisa berupa IPO atau konsorsium investor, tetapi yang pasti paling penting adalah pengambilan keputusan dan pengembangan Mindtalk tetap ada diIndonesia.

Indonesia adalah negara terbesar kelima pengguna Facebook dan Twitter. Menurut Anda kenapa pengguna kedua sosial media tersebut banyak di sini?

Ini hanya masalah tren saja sih, dulu Friendster juga banyak sekali penggunanya di Indonesia, tapi sekarang sudah hilang tidak terdengar lagi. Dulu semua orang punya Friendster seperti halnya semua orang punya Facebook sekarang. Tetapi saya berani bertaruh, suatu saat nanti Facebook pun akan hilang. D Indonesia orang banyak memakai Facebook karena para operator telekomunikasi dan perusahaan-perusahaan branded mempromosikan Facebook.

Tapi lama-lama orang juga akan bosan dengan Facebook. Saya saja sudah tidak main Facebook. Sekarang sudah banyak orang yang mematikan akun Facebook-nya, karena memang Facebook itu seperti tren, Seperti dulu orang dengan bangganya punya Friendster, YM, BlackBerry, dll. Tapi sekarang kita kan tidak terlalu bangga, mungkin malah malu kalau kita ngaku punya Friendster.

Hal apa yang paling Anda tidak sukai?

Saya tidak suka orang yang suka cari muka, tidak suka difitnah dan kondisi orang tidak mempercayai saya, ujar pria yang memiliki prinsip hidup Focus, Passionate, don™t give up and be honest ini.

Apakah Anda termasuk orang yang ambisius dalam mengejar karir? Target pribadi apa yg ingin Anda capai yang belum kesampaian?

Tidak, saya ambisius dalam membuat karya yang baik. Target pribadi saya yang belum kesampaian adalah membuat beberapa founder teman saya yang bekerjasama dengan Merah Putih Inc menjadi seorang milyader.

Saat ini, selain sebagai CEO dan pendiri Mindtalk, Danny juga merupakan CEO SemutApi Colony, pendiri dan partner dari Klix Digital, serta sebagai Chairman pada Merah Putih Inc. Beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan Merah Putih Inc. antara lain adalah Daily Social, Krazy Market, Bolalob, Infokos dan Lintas Me.


Denny Mahardy